
JAKARTA – Anggaran transfer ke daerah tahun 2026 disebut telah mencapai sekitar Rp720 triliun. Angka fantastis ini diungkapkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Nilainya meningkat dibandingkan pagu awal APBN 2026 sebesar Rp693 triliun. Namun, di tengah besarnya anggaran tersebut, pertanyaan yang layak diajukan bukan sekadar berapa banyak uang yang digelontorkan, melainkan seberapa nyata manfaatnya dirasakan masyarakat.
Pemerintah menjelaskan, penambahan transfer dilakukan untuk membantu daerah yang mengalami kesulitan fiskal, memenuhi kebutuhan belanja pegawai, serta menangani dampak bencana alam. Suahasil juga menyebut adanya tambahan transfer Rp20,5 triliun bagi sejumlah kabupaten dan kota yang menghadapi tekanan anggaran. Sebelumnya, pemerintah turut mengalokasikan tambahan Rp10,6 triliun bagi daerah terdampak bencana. Kebijakan ini dimaksudkan untuk membantu pemerintah daerah menjaga keberlangsungan pelayanan publik di tengah kebutuhan yang terus berkembang.
Di sisi lain, besarnya anggaran tidak otomatis menjamin semua persoalan daerah selesai. Tito Karnavian mengungkapkan bahwa ada pemerintah daerah yang mengalokasikan lebih dari 40 hingga 50 persen APBD untuk belanja pegawai. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena daerah juga membutuhkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan masyarakat. Jika pengelolaan anggaran tidak tepat sasaran, masyarakat berisiko hanya mendengar besarnya angka tanpa merasakan perubahan yang sepadan. Karena itu, transparansi penggunaan dana dan evaluasi hasil pembangunan menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Rp720 triliun bukan angka kecil. Publik wajar berharap anggaran sebesar itu diikuti perbaikan layanan publik, pembangunan yang merata, serta penanganan bencana yang lebih sigap. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan setiap alokasi memiliki tujuan yang jelas, pelaksanaan yang terukur, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, anggaran boleh fantastis, tetapi ukuran keberhasilannya bukan sekadar angka dalam laporan. Kalau uangnya sudah sebesar itu, rakyat pantas bertanya: perubahan nyatanya bisa dilihat di mana?
Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/dana-daerah-rp720-triliun-duitnya-fantastis-rakyat-kebagian-apa